Tampilkan postingan dengan label Info Bola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Info Bola. Tampilkan semua postingan

Best Football Goalkeepers in the World

 Samir Handanovic (Slovenia & Udinese)

 Hugo Lloris (France & Lyon)

 

 Pepe Reina (Spain & Liverpool)

 

 Edwin van der Sar (Manchester United)

 

 Joe Hart (England & Manchester City)

 

 Julio Cesar (Brazil & Inter Milan)

 

 Victor Valdes (Spain & Barcelona)

 

 Petr Cech (Czech Republic & Chelsea)

 

 Iker Casillas (Spain & Real Madrid)

Kerusuhan Sepakbola di Mesir, 74 Orang Tewas




CERITA DEWASA - Sembari membopong dua fans klub tamu, Al-Ahly, yang sudah tewas, Mamdouh Eid setengah berlari dengan sisa tenaga menuju pintu keluar Stadion Port Said, Port Said, Mesir, dini hari kemarin WIB. Suasana di stadion berkapasitas 18 ribu orang itu sudah mendidih: fans klub tuan rumah, Al-Masry, memburu dan menghajar pendukung serta pemain Al-Ahly dengan batu, botol, tongkat, bahkan senjata tajam.

Sial bagi Eid, sampai di depan pintu keluar, petugas tak mau membuka pintu. Manajer eksekutif Komite Suporter Al-Ahly itu pun akhirnya mengikuti langkah para pemain Al-Ahly menuju ruang ganti dan meletakkan jenazah dua suporter tersebut di sana. "Polisi hanya diam dan ambulans datang sangat terlambat," ujarnya geram kepada CNN yang menemuinya di Kairo.

Kesaksian serupa datang dari banyak fans Al-Ahly lainnya yang selamat dari kerusuhan yang menewaskan total 74 orang (ada yang menyebut 79 orang) serta melukai sekitar 1.000 orang lainnya itu. Salah satunya adalah Amr Khamis, anggota Ultras, suporter garis keras Al-Ahly. "Polisi membiarkan kerusuhan itu. Mereka menolak membuka pintu keluar. Padahal, kami dikejar ribuan suporter Al-Masry," kata Khamis.


Sebuah tayangan video amatir memperlihatkan seorang petugas keamanan malah sibuk menelepon saat suporter saling beradu fisik. Jadilah, pasca kerusuhan terburuk terkait sepak bola sejak 80 orang tewas dalam laga kualifikasi Piala Dunia Zona CONCACAF antara Guatemala versus Kosta Rika di Guatemala City pada Oktober 1996 itu, berkembang kabar bahwa tragedi di Port Said tersebut sudah "diskenario". Yakni, oleh militer yang bekerja sama dengan polisi.

Targetnya adalah Ultras Al-Ahly. Sebab, kelompok itulah yang berada di garis depan dalam "Revolusi Lapangan Tahrir" yang berbuntut pada lengsernya Presiden Hosni Mubarak pada Februari tahun lalu.

Dengan pengalamannya "bertempur" menghadapi suporter klub lain, Ultras memandu para demonstran menghadapi kebrutalan aparat serta para preman bayaran yang dikerahkan rezim Mubarak. Jadi, kerusuhan seusai laga Liga Mesir antara Al-Masry melawan Al-Ahly yang berakhir 3-1 untuk kemenangan tuan rumah itu dirancang sebagai balas dendam.

Kerusuhan tersebut terjadi setelah wasit meniup peluit akhir laga yang mempertemukan klub peringkat keempat (Al-Masry) dengan peringkat kedua (Al-Ahly) Liga Mesir itu. Suasana yang memanas sejak pertandingan dimulai tersebut langsung meledak begitu suporter kedua tim berhamburan masuk ke lapangan.

Suporter Al-Ahly yang hanya berjumlah 1.200 orang tak kuasa menghadapi suporter tuan rumah yang mencapai 13 ribu orang. Apalagi, banyak laporan menyebutkan, para suporter tuan rumah dibiarkan membawa berbagai macam "amunisi" ke dalam stadion. Tak sedikit pula suporter tim tamu yang terpojok di beberapa sudut stadion yang telah dibakar pendukung tuan rumah.

Para pemain dan pendukung Al-Ahly pun harus bersembunyi di ruang ganti, bercampur dengan jenazah para suporter klub tersukses di Mesir dan Afrika yang berbasis di Kairo tersebut. Tiga pemain Al Ahly dikabarkan terluka. Salah seorang di antaranya adalah kiper Sharif Ikrami.

Mohammed Abou Trika, striker Al-Ahly dan timnas Mesir, menyebut kejadian dalam stadion itu sebagai "perang". Sementara itu, Sharif Ikrami menegaskan, dirinya dan rekan-rekan setimnya tak akan bermain sepak bola lagi. "Bagaimana kami bisa memikirkan sepak bola lagi setelah menyaksikan apa yang terjadi?" ungkapnya seperti dikutip Daily Mail.

Federasi Sepak Bola Mesir memang sudah mengumumkan bahwa Liga Mesir ditunda sampai waktu yang belum ditentukan. Sementara itu, Federasi Sepak Bola Afrika yang tengah menghelat Piala Afrika 2012 di Guinea Khatulistiwa dan Gabon mewajibkan pengheningan cipta di semua laga perempat final ajang dua tahunan tersebut yang dihelat mulai Sabtu besok.

Semula, kerusuhan itu diduga murni terjadi karena sengitnya rivalitas antara dua klub yang sejak dulu memang bermusuhan. Tapi, seiring dengan pengakuan para saksi dan tayangan video kejadian, dugaan yang menguat adalah adanya skenario oleh aparat tersebut.

Apalagi, tragedi itu hanya berselang sehari setelah Kementerian Dalam Negeri gagal meyakinkan parlemen agar kembali memberlakukan undang-undang kondisi darurat yang akan memberikan wewenang lebih luas kepada polisi dan militer.

"Ini bukan lagi sepak bola. Ini plot untuk menghancurkan negara," ujar Manajer Al-Masry Kamal Abu Ali yang langsung menyatakan mundur setelah kerusuhan.

Sejumlah suporter Al-Masry juga menegaskan bahwa yang pertama memicu kerusuhan bukan pihak mereka. "Ada sejumlah kelompok tak dikenal yang menyusup dan merekalah yang memicu kerusuhan. Mereka bukan dari Port Said. Mereka mirip para preman yang biasa disewa Partai Nasional Demokrat (partainya Mubarak) pada masa-masa pemilu dulu," ujar Farouk Ibrahim, suporter Al-Masry yang hadir dalam laga tersebut.

Keyakinan akan adanya skenario itu juga disuarakan Partai Keadilan dan Kebebasan, sayap politik Ikhwanul Muslimin yang memenangi pemilu legislatif yang baru lalu. "Kerusuhan tersebut dimaksudkan untuk mengganjal proses transisi demokrasi yang damai yang dilakukan partai-partai yang terkait dengan rezim lama," ujar Partai Keadilan dan Kebebasan dalam rilis resminya seperti dikutip Bloomberg.

Pemerintahan sementara Mesir di bawah kendali Dewan Agung Militer langsung membantah tudingan tersebut. "Ada kelompok-kelompok terorganisasi yang secara sengaja memprovokasi polisi sepanjang pertandingan dan mengeskalasikan kerusuhan dengan masuk ke lapangan seusai peluit terakhir wasit," ujar Menteri Dalam Negeri Mesir Mohamed Ibrahim Youssef.

"Polisi sudah berusaha mencegah tanpa terlibat dalam kerusuhan," lanjutnya. Hussein Tantawi, ketua Dewan Agung Militer, juga memastikan tak ada rekayasa dalam kerusuhan yang disebut.

Presiden FIFA Sepp Blatter sebagai "hari kelam bagi sepak bola" tersebut. "Insiden ini tak akan menghancurkan Mesir. Kejadian seperti ini bisa terjadi di mana saja. Kami tidak akan menindak semua yang terlibat," tegasnya sebagaimana dikutip Associated Press.

Militer mengerahkan dua pesawat untuk menjemput para pemain Al-Ahly di Port Said dan menerbangkan mereka ke Kairo. Sampai tadi malam, aparat telah menangkap 47 orang yang diduga terlibat kerusuhan itu. Kepala Kepolisian Port Said Essam Samak juga telah dipecat.

Dewan Agung Militer pun telah mengumumkan masa berkabung nasional selama tiga hari. Tapi, semua itu tetap sulit meredakan tingginya tensi. Negeri yang dialiri Sungai Nil tersebut berada di ambang revolusi kedua setelah yang pertama berhasil melengserkan Mubarak tahun lalu. Dewan Agung Militer bakal menghadapi tantangan sangat berat untuk mempertahankan kekuasaan.

Sebagaimana dilaporkan BBC, ketegangan kini merebak di berbagai penjuru Mesir. Di Suez, misalnya, 500 orang berdemonstrasi mengutuk polisi dan militer di depan kantor pusat kepolisian setempat. Ultras Al-Ahly juga sudah kembali ke Lapangan Tahrir, Kairo, dan merencanakan demonstrasi besar-besaran dini hari tadi.

"Orang-orang sangat marah kepada rezim yang berkuasa. Anda bisa melihat kemarahan itu di mata mereka," ujar Mohammed Abdel Hamid, suporter Al-Ahly di Kairo.(c5/ttg)





Petenis handal dan seksi

Agnes Szavay pictures 



Agnes Szavay won trophy

Agnes Szavay sexy smile

Agnes Szavay tennis player




Agnes Szavay

Both sports do an excellent job of accentuating the female form, as in this shot of Agnes Szavay an instant before she strikes the tennis ball to set another point in motion.

Agnes Szavay stomach

Sepatu bola khusus maestro pemain tengah

Nike kembali memperkenalkan produk sepatu sepak bola dengan teknologi terbarunya, Nike CTR360 MAESTRI II ELITE. Sepatu ini dirancang khusus untuk para pemain yang menguasai kontrol di lapangan.

Mengendalikan tempo dengan penempatan bola yang akurat, mendikte permainan dan menciptakan kesempatan adalah kebutuhan yang penting untuk seorang pemain MAESTRO lini tengah.

Baik Cesc Fabregas (Arsenal FC) dan Andres Iniesta (Barcelona FC) mewakili pemain utama yang menguasai kontrol di lapangan dan keduanya memakai sepatu CTR360 MAESTRI II ELITE.

Kemampuan untuk mengontrol dan mengatur teman satu timnya untuk mencetak berbagai peluang itulah yang membuat mereka berbeda. Angka tidak dapat berbohong. Berdasarkan hasil statistik, yang dikeluarkan oleh UK-based Opta sebagai pusat data sejarah olahraga terlengkap di dunia, menunjukkan keunikan dari kemampuan Fabregas dan Iniesta adalah untuk penguasaan dalam mendominasi permainan.

CECS FABREGAS: THE MAESTRO

Fabregas menggabungkan teknik fluiditas dengan kemampuannya sendiri untuk mendikte jalannya permainan. Dari awal musim pertandingan 2009/2010, dia telah berhasil menjadi penyumbang assists (16) terbanyak untuk liga klubnya. Fabregas telah menciptakan rata-rata peluang di setiap 24.8 menit, pencapaian tertinggi diantara para pemain lainnya. Yang juga patut dicatat, Fabregas merupakan pemain paling produktif dalam menciptakan peluang untuk timnya di lima liga Eropa teratas musim 2009/2010, menciptakan peluang setiap 29 menit.

ANDR?S INIESTA: THE MAGICIAN

Musim panas ini di Afrika Selatan, Iniesta mulai menunjukkan perubahan dalam permainannya dan tidak menjadi suatu kejutan ketika keakuratan penempatan dan assists rasionya menempatkannya menjadi salah satu pemain terbaik di dunia. Dalam kompetisi kejuaraan premier Eropa musim ini, Iniesta berhasil menemukan ?pendamping? yang memberikannya 90% passing yang luar biasa. Musim terakhir di liga klubnya, penyiasat berbakat ini berhasil mencatat rata-rata 93.7% passing accuracy di tengah-tengah permainannya. Iniesta telah menciptakan sebuah kompetisi tingkat tinggi memberikan 16 kesempatan mencetak gol untuk teman-teman timnya di dalam pertandingan kualifikasi negara-negara Eropa.

Dengan mengutamakan spesifikasi posisi, Nike CTR360 MAESTRI II ELITE memberikan enam element penting untuk para pemain yang mencari sepatu premium:

    PASS & RECEIVE PAD: Injected instep pad dan grip-like traction menghasilkan kontrol bola yang tepat.

    KANGA-LITE UPPER: Terasa seperti kulit dan memberikan kenyamanan luar biasa dan cocok untuk segala cuaca.

    DAMPENING PODS: Zona bantalan pada sisi samping kaki depan memberikan kontrol bola pada sentuhan pertama.

    RECEIVE PAD: Meningkatkan kontrol dari kura-kura kaki dan membuat menangkap bola lebih mudah.

    PASS PAD: Mengarahkan penyebaran dan penempatan dari passing yang tepat.

    LACING SYSTEM: Rancangan tali yang asimetris menciptakan permukaan kontrol bola yang lebih luas.

    CARBON CHASSIS: Carbon re-inforced chassis, memberikan kekuatan dengan bilah kancing untuk daya tarik dan kestabilan yang maksimal.

Sebuah kode khusus disertakan di setiap pasang sepatu CTR360 MAESTRI II yang dapat digunakan oleh para pemain untuk secara eksklusif mengakses Nike Football+ training content, termasuk untuk mendapatkan wawasan dari para pemain profesional, elite training sessions, trial events, penampilan dari para pemain dan masih banyak lagi.